
Oh Cinta……….
………memang tidak sesederhana kata itu sendiri
Lagi egois…maaf gak boleh komentar
picture taken from hoshinavi.com
Bukan!!! Kali ini judul itu bukan karangan saya, seperti pada postingan ini. Judul itu adalah judul sebuah artikel di Koran Malut Post pada sekitar akhir bulan Februari 2008.
Pembaca blog :
“Lah, terus ngapain judulnya pake itu??”
Aku :
“Yah, iseng aja sih…Barangkali bisa naikin trepik….Lagian terserah gue dong….blog gue gitu loh….”
Pembaca blog :
“Huuuu……….”*melempar monitor*
Aku :
Gubrak……..*Pingsan seketika*
KHAYAL MODE OFF
Sebelumnya, perkenankan saya memperkenalkan sebuah kota bernama Jailolo. Kota ini adalah ibu kota dari Kabupaten Halmahera Barat, Propinsi Maluku Utara. Sesuai namanya, kabupaten ini terletak di Pulau Halmahera. Tahu Pulau Halmahera khan? Bentuk pulaunya mirip Pulau Sulawesi, namun dengan ukuran yang lebih kecil (mirip huruf K). Nah, di sebelah barat Pulau Halmahera terdapat Pulau Ternate, Tidore, Maitara dan pulau-pulau kecil lain.
Kabupaten ini dulunya adalah Kabupaten Maluku Utara, dengan ibukota di Ternate. Seiring terbentuknya Propinsi Maluku Utara, terbentuk pula beberapa kabupaten baru. Sementara kabupaten induk berganti nama menjadi Kabupaten Halmahera Barat dengan ibukota pindah ke Jailolo. Jadi tidak mengherankan jika masih terdapat beberapa aset tidak bergerak (tanah maupun bangunan) milik Halmahera Barat yang berada di Kota Ternate. Begitu juga pegawainya, kebanyakan telah memiliki tempat tinggal di Ternate.
DISCLAIMERS :
1. Postingan ini adalah titipan dari seorang teman yang ingin mengungkapkan uneg-unegnya. Teman saya ini berasal dari keluarga yang secara turun-temurun berprofesi sebagai bidan.
2. Kesamaan nama, tempat, cerita dan kejadian adalah ketidaksengajaan belaka. Kebenaran isi dan tanggung jawab atas semua akibat yang timbul setelah penerbitan postingan ini tidak berada di tangan saya sebagai pemilik blog.
3. Untuk selanjutnya subjek “saya” mengacu kepada teman saya, bukan saya apalagi kamu (Nah lho??!!).
SELAMAT MEMBACA
*Buat para fast readers, jangan tertipu oleh judul*
Pada minggu ketiga bulan Maret kemaren, aku pulang kampung. Perjalanan alhamdulillah lancar, tidak seperti waktu itu.
Beberapa hari di rumah, ibuku memutuskan sesuatu yang cukup mengezhutkan. Dengan alasan anak bungsunya yang paling ganteng ini bekerja di timur jauh (halah…), sehingga beliau merasa kesepian, Ibu memutuskan untuk mengadopsi anak* membeli sapi. Apa hubungannya coba?
Misi penting membeli sapi itu diserahkan kepada saya. Karena saya masih awam, lugu dan kurang terkenal dalam dunia hewan, saya ditemani Pak Jo. Pak Jo inilah yang nanti akan menjadi ayah angkat sapi cowboy-about-50-years-old-man.




