Ini adalah seri kedua dari trilogi tentang Kepulauan Banda. Bagi yang belum membaca seri pertamanya silahkan baca di sini.
Jika air laut surut beberapa ratus meter, maka akan terlihat bahwa Kepulauan Banda sejatinya adalah sebuah rangkaian pegunungan. Dari sekumpulan gunung itu, ada satu gunung yang masih aktif. Itulah Gunung Banda Api.
Seperti telah disampaikan di sini, saya adalah alumni dari sebuah kampus di Tangerang. Sebuah kampus hijau. Hijau dalam arti sebenarnya, sampai-sampai kambing dan sapi tidak menyia-nyiakan kehijauan kampus saya ini. Sudah menjadi ketentuan, setiap alumni dari kampus ini berhak dan wajib menjalani kerja paksa ikatan dinas dengan konsekuensi mau dikerjapaksakan ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia atau kami sering menyebut dengan Jawa dan Luar Negeri Jawa.
Akibat dari ketidakbijakan itulah, alumni dari kampus Jurangmangu ini tersebar dan mewabah di seluruh dunia persilatan Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke.
Perjalanan ke Pulau Banda termasuk perjalanan yang tidak akan saya sesali seumur hidup. Betapa tidak, gugusan pulau yang terletak di salah satu palung laut terdalam di dunia ini menyimpan keindahan yang tak terperikan. Kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah tersebut menyimpan sesuatu yang amat berharga. Sesuatu yang sanggup membuat orang-orang eropa dari bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mau berlayar berbulan-bulan untuk mendatanginya, ratusan tahun yang lalu. Dan tindakan mereka memang tidak sia-sia.
Kepulauan Banda adalah sebuah kombinasi unik dan indah antara pantai, gunung berapi dan buah pala yang terkenal. Kombinasi yang bisa membuat orang tak mampu lagi mengontrol kerakusan dirinya untuk menguras habis kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Amsterdam adalah bukti nyata hasil rampasan sekelompok orang rakus itu.
Jika anda sedang mencari seseorang dengan nama Adis dengan jenis kelamin perempuan, dan nota bene dia adalah seorang lesbian, maka mohon maaf anda telah salah orang jika anda masuk ke blog ini.
Bersamaan dengan postingan ini pula, saya ingin menegaskan bahwa saya adalah laki-laki normal. Seorang perjaka yang sedang mencari istri. Bukan seorang homo, apalagi lesbian. Rrrrrrgggggghhhhhhh…….
Apa yang anda lakukan jika anda di dalam pesawat terbang (dalam keadaan terbang tentunya)? Duduk dan berdiam diri di kursi pesawat yang kadang sengaja dipasang terlalu sempit (agar pesawat dapat diisi kursi penumpang lebih banyak), terkadang membuat kita jenuh, bosan, bahkan melelahkan. Apalagi kalau waktu tempuh pesawat terbang di atas satu jam.
Untuk menghilangkan rasa bosan mungkin anda dapat mencoba untuk tidur, membaca buku, mendengarkan file audio kesukaan anda, atau sok kenal sok dekat ngobrol dengan penumpang cewek di sebelah anda ataupun godain pramugari. Semua dapat anda lakukan jika anda menumpang pesawat Boeing 737 atau pesawat lain sejenis yang berbadan lebar, mampu menampung penumpang hingga ratusan, ketinggian jelajah sekitar 30.000 kaki, dan mampu menekan tingkat kebisingan sehingga tidak mengganggu pendengaran. Problem solved, end of story.
Sayangnya, hal itu sering tidak berlaku pada saya. Sebagai seorang penumpang yang lebih sering menumpang pesawat perintis, sungguh hal itu sering tidak bisa saya lakukan.