Refleksi 16 Bulan Pulang Pergi Jakarta – Solo : Rosalia Indah Vs Raya

Wuih gak terasa sudah setahun lebih saya jadi bujang lokal di Jakarta. Selama waktu itu, tiap kira-kira dua minggu sekali saya baru bisa ketemu keluarga dua-tiga hari di Solo. Selama itu juga jadi pelanggan setia bus jurusan Jakarta – Solo.

 

Sekedar berbagi pengalaman aja, selama setahun lebih menikmati layanan angkutan bus Jakarta – Solo, ada dua bus yang sering saya tumpangi. Rosalia Indah dan Raya. Tanpa bermaksud menjelekkan salah satu dari perusahaan otobus tersebut, disini saya akan mencoba membandingkan secara obyektif kualitas pelayanan dari dua bus tersebut. Agar lebih jelas, disini akan dibandingkan bus Rosalia Indah jurusan Lebak Bulus – Solo kelas Executive (32 Seat) dan bus Raya jurusan Lebak Bulus – Solo kelas Executive (28 Seat). Semoga bisa menjadi panduan yang bermanfaat bagi yang ingin bepergian.

Hope For Consistency

Fuih gak terasa dah lama sekali aku gak konsisten ngeblog lagi. Minggu ini, mumpung masih minggu awal kuliah belum terlalu banyak kerjaan mungkin bisa digunakan untuk kembali menggeluti dunia blogosphere. Yah paling tidak, bisa sedikit memberikan alasan penolakan terhadap pendapat seseorang yang mengatakan bahwa blog adalah trend sesaat. Haha…

 

Aller anfang ist schwer (Semua permulaan adalah sulit/ The first step is hardest)

 

Mungkin idiom jerman itu bisa menggambarkan betapa sulitnya bila kita ingin memulai sesuatu. Meski sesuatu itu dulu pernah kita dalami dan nikmati dalam hampir setiap hembusan nafas. Mulai menulis kembali, mengetukkan sepuluh jari di keyboard, mengungkapkan apa yang ada di pikiran, masih terasa kaku.

 

Bukannya mau mencari alasan, tapi kehidupan baru setelah menikah, disusul kesibukan berkuliah dan akhirnya menjadi seorang ayah kadang menjadi suatu pembenaran bahwa ada hal lain yang lebih pantas dilakukan dibandingkan sekedar membuang waktu menulis postingan, membalas komentar atau bahkan melakukan blog walking (buset… dah lama banget gak denger kata itu). Tapi apa memang benar ya, kalau blogging itu tidak lebih baik dari pada nge-game, chatting atau update status gak penting di facebook (aha.. aku juga dah jarang melakukan hal terakhir itu).

 

Ah sudahlah… nikmati aja reuni ini, sebelum perpisahan menjemput kembali (semoga saja tidak…).

Politik Vs Gempa

Pesta telah usai
Poster caleg tak lagi ramai
Capres pun mulai berdamai

 

Berbeda sekali bulan lalu
Genderang perang selalu bertalu
Caleg tak bosan merayu
Uang panas mengalir beribu-ribu

 

Caprespun tak ketinggalan
Ada yang datang ke pasar becek
Ada yang ke tempat pembuangan
Di belakang mereka saling mengejek
Sindir-menyindir menjadi sarapan

 

Mereka berlomba merayu rakyat
Seolah mereka pelindung rakyat
Paling mengerti penderitaan rakyat

 

Namun pesta telah usai
Politik tak lagi ramai
Mereka pun mulai berdamai

 

Minggu kemaren gempa melanda
Jawa Barat dan sekitarnya
Rakyat menangis menahan derita
Sanak hilang entah kemana

 

Lihatkah engkau setelah gempa kawan?
Ada caleg datang bertandang?
Ada capres berduyun-duyun datang?
Kemana mereka menghilang?
Saat rakyat benar-benar membutuhkan?

 

Wahai rakyat sadarlah kamu
Mungkin kamu telah tertipu
Mereka yang merayumu dulu
Kini seolah tak mau tahu
Tak kenal rasa malu

 

Walaupun kamu memelas
Mungkin tak akan mereka balas
Mereka mungkin sibuk mencari emas
Persiapan untuk 2014

 

Kalau boleh aku berandai
Apa yang kan terjadi disana
Kalau sebelum pesta usai
Gempa telah melanda

 

Mungkin banyak posko disana
Relawan parpol dimana-mana
Membantu dengan sukarela
Walaupun pada akhirnya
“Jangan lupa coblos saya!”

 

Mungkin inilah demokrasi
Yang terpilih semoga ingat janji
Yang tidak terpilih mungkin mencaci
Masih percayakah kita pada sistem ini?

Tempat Paling Nyaman di Dunia

Menurut temen-temen dimana sih tempat paling nyaman di dunia? Apakah di Neverland miliknya Michael Jackson? Atau di Istana Raja Arab? Atau di Apartemen yang ditawarkan Feny Rose, yang harganya naik besok?

 

Konon, tempat paling nyaman di dunia adalah di rahim seorang ibu. Di dalam rahim seorang ibu yang tengah mengandung, terdapat janin dari bayi yang setelah mencapai umur tertentu akan lahir ke dunia. Calon bayi inilah mahluk paling beruntung yang bisa menikmati tempat paling nyaman di dunia. Saya kira semua manusia yang dilahirkan, pernah mengalami keberuntungan itu.

 

Kenapa di rahim?

Analisa Abal-abal : Perlukah Remunerasi?

Sebenarnya saya jarang menulis serius. Tentu saja kecuali pada saat mengerjakan tugas kuliah atau saat lembur menulis laporan hasil audit. Namun saya tergelitik untuk menulis serius setelah membaca komentar-komentar pembaca blog ini pada postingan tentang remunerasi, yang sebenarnya juga hasil dari kompilasi copy paste sana-sini (ketahuan deh :) ).

 

Perlukah remunerasi? Salah satu komentator di postingan saya itu mengatakan bahwa tidak etis jika para pegawai menuntut segera diberlakukan remunerasi.

 

Satu catatan sebelum kita lanjutkan pembahasan ini, sebenarnya remunerasi tidak otomatis berarti kenaikan gaji dan tunjangan, tapi lebih kepada peningkatan kinerja para pegawai dengan diiringi penghargaan atas jerih payah peningkatan kinerja tadi. Salah satunya yang terlihat adalah dengan kenaikan gaji dan tunjangan.

 

Jadi, kenapa tidak etis? Ada Komentator yang mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang miskin, yang berpikir untuk makan saja susah, sementara para pegawai masih saja tidak puas dengan gaji yang hampir pasti diperoleh tiap bulan. Ada juga yang bilang, buat apa meminta remunerasi, kan sudah dapat hasil pungutan liar tiap hari.