Sebenarnya saya jarang menulis serius. Tentu saja kecuali pada saat mengerjakan tugas kuliah atau saat lembur menulis laporan hasil audit. Namun saya tergelitik untuk menulis serius setelah membaca komentar-komentar pembaca blog ini pada postingan tentang remunerasi, yang sebenarnya juga hasil dari kompilasi copy paste sana-sini (ketahuan deh
).
Perlukah remunerasi? Salah satu komentator di postingan saya itu mengatakan bahwa tidak etis jika para pegawai menuntut segera diberlakukan remunerasi.
Satu catatan sebelum kita lanjutkan pembahasan ini, sebenarnya remunerasi tidak otomatis berarti kenaikan gaji dan tunjangan, tapi lebih kepada peningkatan kinerja para pegawai dengan diiringi penghargaan atas jerih payah peningkatan kinerja tadi. Salah satunya yang terlihat adalah dengan kenaikan gaji dan tunjangan.
Jadi, kenapa tidak etis? Ada Komentator yang mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang miskin, yang berpikir untuk makan saja susah, sementara para pegawai masih saja tidak puas dengan gaji yang hampir pasti diperoleh tiap bulan. Ada juga yang bilang, buat apa meminta remunerasi, kan sudah dapat hasil pungutan liar tiap hari.
Ok, sekarang kita balik. Kenapa ada masyarakat miskin?
Karena mereka tidak berpenghasilan atau berpenghasilan rendah.
Kenapa mereka tidak berpenghasilan atau berpenghasilan rendah?
Karena mereka tidak bekerja atau pekerjaan mereka kurang layak.
Kenapa mereka tidak bekerja atau pekerjaan mereka kurang layak?
Karena kurang atau tidak adanya lapangan pekerjaan yang layak.
Kenapa tidak ada lapangan pekerjaan yang layak?
Karena kurangnya pengusaha.
Kenapa pengusaha kurang?
Karena laba yang diperoleh sedikt, atau karena sedikit bidang usaha yang bisa menghasilkan laba yang menggiurkan.
Kenapa laba yang diperoleh sedikit, padahal sumber daya alam melimpah dan tenaga kerja relatif murah? Bukankah biaya produksi bisa ditekan sehingga laba bisa bertambah?
Karena ada pungutan liar yang harus disediakan untuk para “oknum berseragam”, saat ingin memperoleh ijin, saat truk pengangkut barang melewati pos penjagaan, saat laporan keuangan akan diperiksa, dan lain-lain. Intinya biaya birokrasi di Indonesia masih terlalu mahal untuk para pengusaha.
Kenapa oknum berseragam itu melakukan pemungutan liar?
Karena mereka ingin memperoleh penghasilan tambahan.
Kenapa mereka ingin memperoleh penghasilan tambahan?
Karena uang mereka tidak cukup untuk menutup kebutuhan keluarga sehari-hari.
Kenapa uang mereka tidak cukup untuk menutup kebutuhan keluarga sehari-hari?
Karena gaji mereka kecil.
Nah, ketemu khan? Dari sinilah salah satu asal mula dari korupsi, yaitu penghasilan yang kurang dan adanya kesempatan untuk melakukan korupsi.
Untuk itulah, maka remunerasi harus segera dilaksanakan. Lebih baik negara mengeluarkan lebih banyak belanja pegawai dan kinerja bisa ditingkatkan, sekaligus korupsi bisa ditekan, dari pada negara melakukan penghematan belanja pegawai, untuk bisa menambah alokasi belanja yang lain (belanja A misalnya) tapi para pegawai kinerjanya memprihatinkan dan menjadikan penghasilan mereka yang kecil sebagai alasan pembenaran mereka melakukan korupsi APBN (bahkan korupsi pada belanja A tadi, sehingga belanja A pun menjadi tidak tepat sasaran), maupun pungutan liar pada masyarakat.
Jadi, muliplier effect dari remunerasi adalah kinerja pegawai meningkat, korupsi berkurang dan belanja pemerintah tepat sasaran (tidak disunat di tengah jalan), sehingga tidak ada lagi pungutan liar, iklim usaha membaik dan akhirnya masyarakat miskin berkurang karena mereka mempunyai penghasilan yang layak dari pekerjaan yang layak pula.
Masih menganggap remunerasi tidak perlu?
Posting Terkait:





Maksudnya Renumerasi yach ???
[Reply]
Comment by Bisnis Online — August 5, 2009 at 4:52 pm
Salah ketik judul kayaknya tuh
[Reply]
adis Reply:
August 5th, 2009 at 5:06 pm
@Template Gratis,
Remunerasi berasal dari kata dalam bahasa inggris “remuneration” yang artinya penggajian, pengupahan. Tidak salah tulis kok
[Reply]
Anonymous Reply:
September 7th, 2009 at 6:02 am
@Template Gratis,
mungkin maksudnya kata ANALISA, kata yang baku adalah ANALISIS, sesuai kata asalnya ANALYSIS. begitu jg untuk diagnosis, sintesis.
aku setuju sm pendapatnya Mas Achwin aja dech…
reformasi birokrasi – remunerasi
[Reply]
Comment by Template Gratis — August 5, 2009 at 4:54 pm
Jangan hanya oknum berseragam saja, namun masyarakat kalangan bawah juga. Selain itu pengembangan mental bangsa juga dirasa harus dilakukan agar tidak tercipta generasi oknum mental tempe seperti di atas.
[Reply]
Comment by Q11901 — August 5, 2009 at 9:34 pm
salam kenal aja..menarik tulisannya
[Reply]
Comment by noersam — August 6, 2009 at 12:12 am
Setidak-tidakna udah nyoba posting seruis hahahah,,,
[Reply]
Comment by Aneka tips — August 6, 2009 at 1:52 am
Dis, ada baiknya sebelum membahas renumerasi bahas dulu mengenai reformasi birokrasi, bagaimana suatu instansi diharuskan terlebih dahulu mendefinisikan ulang standard operating procedure-nya, membuat indikator kinerja utama, analisis jabatan.Nah renumerasi adalah efek dari reformasi birokrasi, tapi sebenarnya tidak semua instansi yang diberlakukan reformasi birokrasi akan mendapatkan renumerasi, itu tergantung dari performa yang dicapai setelah reformasi birokrasi.
Lebih penting lagi, mulai tahun 2010 akan diimplementasikan Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting (PBB)) di enam kementrian lembaga dan disusul oleh semua kementrian lembaga di tahun 2011. PBB menjadi urgen dikarenakan akan ada pola penilaian performa baik organisasi ataupun individu dengan menyandingkan capaian aktivitas dengan spending apbn yang telah dikeluarkan.
Saya tau banyak yang memicingkan mata mengenai reformasi birokrasi c.q renumerasi tanpa melirik usaha yang telah pemerintah lakukan untuk lebih mengedepankan tranparansi dan akuntabilitas, khususnya sejak adanya paket reformasi UU di Bidang Keuangan Negara, bagi saya Reformasi UU KN walaupun masih ada tambal sulam di sana sini tapi itu satu-satunya real reformation yang saya bisa rasakan dibandingkan dengan reformasi politik yang diteriakkan terus-menerus.
[Reply]
Comment by Acwin — August 6, 2009 at 7:39 am
saya senang ada org yg peduli sm aparat pemerentah spt km dis dari.
[Reply]
Comment by nusantara — August 6, 2009 at 10:26 am
Wah objek di luar pekerjaan tetap adalah korupsi
[Reply]
Comment by Ihwan — August 6, 2009 at 1:09 pm
kalo para pejabat-pejabat tinggi yang sudah terkenal dengan korupsi apa gaji mereka juga kecil ya…?? padahal mobilnya kan bisa dijual tuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari…
salam..
[Reply]
Comment by kucrit — August 6, 2009 at 9:05 pm
wah.. kliatannya lagu bang roma kudu di pelintir nih :
“yang nyaman tambah nyaman, yang susah tambah susah” hiks..
biariiinnnn….
rejeki dari gusti allah.. biarin ajah..
aku minta dari allah aja deh..
gimana bos..

tak tunggu komen di blog ku yo …
trims..
[Reply]
Comment by fathin — August 7, 2009 at 1:50 pm
nice analytics nih… lam kenal yah…
[Reply]
Comment by Siais — August 8, 2009 at 7:06 am
Waduh kk, aspeknya sebenerya sangat-sangat banyak,
dan saya yakin, perubahan tatanan remunerasi pun akan sedikit dampaknya jika aspek yang lain tidak diperhatikan
Saat orang yang gajinya kecil mendapatkan pencerahan maka orang lain yang berada di level bawahnya akan mengambil alih lahan itu. perlu diadakan reformasi besar2an itu mah. klo kata salah seorang temen saya, kita harus membunuh satu generasi dulu, agar generasi yang akandatang ngak tau apa itu korupsi/pungutan liar
just a thought, piss….
[Reply]
Comment by aNGga Labyrinth™ — August 8, 2009 at 8:41 pm
Pertaanya lagi, kenapa pegawai level atas atau anggota DPR, misalnya, yg jelas-jelas gajinya besar (udah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari2) masih bayak yang ber-korupsi???
[Reply]
Comment by Sef — August 9, 2009 at 10:39 am
Allow, balik lagi nih
pa kabar
[Reply]
Comment by Bisnis Online — August 9, 2009 at 9:06 pm
blogwalking, salam (_ _)
[Reply]
Comment by didta — August 10, 2009 at 4:50 pm
membahas tentang asal mula korupsi, salah satunya adalah terpaksa karena gaji dirasa tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
salah banyaknya adalah serakah.
[Reply]
Comment by -tikabanget- — August 10, 2009 at 7:06 pm
Remunerasi ?! what is that ?!
[Reply]
Comment by NoRLaNd — August 11, 2009 at 9:47 pm
Kok masih blom mudeng yak???
Ulangi baca ahh…
[Reply]
Comment by Brandal Surga — August 11, 2009 at 9:56 pm
kenapa gaji mereka kecil?
karena pengusaha/negara mampu menggaji ya cuma segitu.
kenapa cuma mampu menggaji segitu?
karena memang mampu ngasih segitu atau bisa juga karena pengen untung yang lebih besar.
kalo di sisi negara sih terlalu banyak nulungin pengusaha dari pada nulungin rakyat kecil.(jadi inget iklan kampanye)
[Reply]
Comment by ando — August 12, 2009 at 5:42 pm
kalo beta seng dapet remunerasi seng papa…asal penempatan di jawa..ha..ha.. halah.. maunya..
[Reply]
Comment by irawan — August 12, 2009 at 6:22 pm
Mengapa mereka butuh penghasilan tambahan?
… karena pada dasarnya manusia tdk pernah puas…
[Reply]
cecep Reply:
August 20th, 2009 at 11:15 am
@Poside,
Betul coi..
Klo udah dasarnya korupsi walau gajinya banyak tetep aja korupsi
manusia selalu merasa kurang
[Reply]
Comment by Poside — August 13, 2009 at 12:26 am
Wah gak ngerti
tapi salah kenal dulu deh biar akrab………..
[Reply]
Comment by Kuliah Gratis — August 13, 2009 at 12:10 pm
Lagi nunggu remunerasi juga kah?
[Reply]
Comment by Dharma — August 13, 2009 at 7:16 pm
wah kalo aku butuh renumerasi bos….
tapi kapan ya..
[Reply]
Comment by muhamaze — August 14, 2009 at 3:00 pm
salam kenal (_ _)
[Reply]
Comment by didta — August 14, 2009 at 3:48 pm
Allow, balik lagi nih
[Reply]
Comment by Bisnis Online — August 15, 2009 at 12:59 pm
__salamprestasi salamkartini saribri__
[Reply]
Comment by bri — August 15, 2009 at 8:54 pm
Remunerasi perlu yg ptng ada reward n punishmen yg tegas dgn aturan2 lbh dperketat.
[Reply]
Comment by Wahyu — August 16, 2009 at 11:54 pm
Analisa yang bagus, bro.
Saya setuju dengan renumerasi. Itu kan bentuk penghargaan atas kemampuan dan kinerja karyawan. Dengan penghargaan yang layak, akan meningkatkan pride dan semangat kerja jg pasti bertambah. Rasa harga diri akan membuncah dan menolak mentah2 bisikan korupsi. Sayang sekali tidak banyak perusahaan yang berpikir spt itu.
**yg lagi berharap renumerasi di kantor
**
[Reply]
Comment by zee — August 18, 2009 at 6:44 pm
maksud remunerasi apa yach??
[Reply]
Comment by RBO — August 29, 2009 at 4:57 am
kami kelrg tni jg ingin spy anak-2 bs sekolah tinggi…sedangkan utk msk universitas biayanya sgt mahal…mohon segra diadakan remunerasi spy kami bs hidup sejahtra.amin
[Reply]
Comment by nida — December 27, 2009 at 4:13 pm
Kepada semua sya punya pndapat : intinya kita harus mensyukuri apa yang ada,dan namanya hidup dan rezeki itu sudah ada yang mengatur,perlu kita ingat kembali dalam hadist Rasullah saw bahwa jika bersyukur maka akan Ku tambah nikmatKu kepadamu dan jika tidak sesungguhnya azabKu sangat pedih.jadi itinya kita harus mensyukuri apa yang ada saja sambil berusaha dan berdoa.dan namanya rezeki itu sudah ada takarannya jadi kalo jatah kita satu gelas walaupun di isinya satu ember ya ttp sisanya akan terbuang karena itu adalah jatahnya orang.yang penting skg kita syukuri smua yang telah Allah swt berikan.mengenai remunerasi kalo itu mmg jatah kita ya insyaallah kita pasti akan menikmatinya kelak.wallahuallam.
[Reply]
Comment by Anonymous — January 1, 2010 at 4:05 am
Postingannya bagus banget mas, tapi coba kita berpikir obyektif saja dan melihat dari berbagai sudut pandang, bagaimana imbasnya bagi seluruh masyarakat yg mungkin lebih dari separuh bukan PNS.[GATRA] jumlah masyarakat miskin di tanah air saat ini mencapai 36,1 persen dari total penduduk Indonesia, sekitar 220 juta jiwa, termasuk di dalamnya penduduk fakir miskin sebanyak 14,8 juta jiwa(http://bonnieleonard.multiply.com/journal/item/5)
SAlahsatu contoh kecil, kita lihat masih banyak masyarakat yang mau berobat gratis aja susah (belum punya kartu jamkesmas), tau sindiri to kalo g punya uang trus sakit gimana rasanya?.
Mungkin dengan adanya remunerasi korupsi “berkurang” tapi tidak musnah dan bagaimana jumlahnya adakah korelasi? mungkin masih banyak kasus yang kita perlu renungkan. thanks postingannya
[Reply]
Comment by Puguh D Raharjo — March 5, 2010 at 2:18 pm