Perjalanan udara sudah cukup sering saya lakukan. Jakarta, Jogja, Surabaya, Makasar, Ambon, Ternate, Tual, Sanana, sampai Bula pernah saya sambangi menggunakan jasa burung besi ini. Mungkin karena saking seringnya, setiap perjalanan udara menjadi kurang berkesan.
Namun, tidak dengan penerbangan kemarin. Penerbangan itu mungkin tidak akan terlupakan. Tanggal 19 Desember itu, saya naik pesawat ke Jogja, pulang kampung untuk merayakan ‘Iedul Adha. Rute yang saya ambil adalah Ambon-Makasar-Surabaya-Jogja. Dan burung yang saya pilih adalah Singa Udara.
Pukul 15.30 WIT pesawat take-off dari Pattimura menuju Hasanuddin. Dengan ketinggian jelajah sekitar 30.000 kaki, waktu tempuh diperkirakan 1 jam 20 menit.
1 jam 30 menit kemudian
Saya mulai merasa kelelahan, badan mulai pegel karena tubuh 175 cm, 73 kg ini dijepit kursi pesawat yang sempit. Saya merasa pesawat ini hanya berputar-putar di udara. Walau gak yakin juga, secara yang saya lihat di jendela cuman mendung doang.
10 menit kemudian
Pilot berbicara dari ruang cockpit mengatakan bahwa Hasanuddin ditutup karena cuaca buruk, dan pesawat diminta menunggu 30 menit di udara…Tuh kan, apa kata saya? Deg…deg…deg…adrenalin mulai terpacu…
30 menit kemudian
Pesawat masih di atas Hasanuddin. Terlihat beberapa penumpang yang punya hajat diminta duduk kembali oleh pramugari yang cantik, karena tanda sabuk pengaman masih menyala.
Kembali suara terdengar dari ruang cockpit, memberitahukan bahwa Hasanuddin masih ditutup dan karena bahan bakar mulai habis (waaaaaa….mati katong), pesawat akan mendarat di Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Waktu tempuh sekitar 45 menit.
Hwaaaaaa…..terdengar riuh rendah para penumpang. Ada yang ngomel gak karuan, ada yang mulai ketakutan, tapi ada juga yang malah seneng karena bisa mampir di Pulau Kalimantan
45 menit kemudian
Di langit sepinggan, terlihat secercah cahaya mentari. Akhirnya pesawat bisa mendarat dengan selamat di Sepinggan, disambut dengan hujan seperdelapan deras. Para penumpang tidak boleh keluar dari pesawat. Lavatory mulai diminati para pemilik kandung kemih. Sementara pesawat menghilangkan kehausan avtur.
30 menit kemudian
Ketika kandung kemih ku juga mulai terasa penuh, i heard that voice. Hasanudin sudah dibuka dan pesawat akan kembali mengudara ke sana. Perjalanan akan ditempuh dalam waktu 45 menit. Terpaksa urusan kandung kemih saya tunda.
50 menit kemudian
Firasatku bahwa pesawat hanya berputar-putar, kembali benar. Dan pemilik suara yang sama di cockpit itu kembali ngoceh, kalau pesawat sedang di atas Hasanudin yang kembali ditutup, karena cuaca ngambek lagi. Dan berputar-putarlah pesawat selama 20 menit.
20 menit kemudian
Pesawat mulai bergoncang. Sebenarnya beberapa saat lalu sudah bergoncang, tapi goncangan kali ini kembali mengusik adrenalin yang sempat terpacu. Seisi pesawat kembali dipaksa mendengar suara penyiar cockpit yang mulai terdengar terbata-bata. Pesawat yang melayang di atas awan cumulus nimbus akan mencoba mendarat. Melewati cumulus, pesawat berguncang. Kulihat di jendela, sayap meliuk-liuk seperti mau patah.
Ya Alloh, apakah sudah tiba masaku……
Semoga firasatku kali ini salah…
Apakah harus secepat ini….
Saat saya belum melaksanakan sebagian sunnah Nabi-Mu
Yah, at least saya punya kesempatan mati syahid, mati tenggelam di laut….
5 menit terlama….
Setelah 5 menit pesawat terguncang, akhirnya dari jendela mulai kelihatan menara Air Controller Hasanuddin. Beberapa saat kemudian terdengar suara ban pesawat yang keluar. Disusul guncangan karet yang bergesek dengan aspal, menandai berakhirnya perjalanan udaraku.
Huuuuuuh…..akhirnya…..saya belum mati…..juga adrenalin belum sempat memaksa isi kandung kemih keluar dari markas…riuh penumpang menjadi suara yang sungguh indah….
Terima kasih kru Singa Udara….
Anti Klimaks
Penerbangan lanjutan, berjalan seperti biasa….Makasar-Surabaya dan terakhir Surabaya-Jogja….
Sampai di Jogja, ibu, mbak dan keponakan sudah menunggu dengan rasa lega campur haru…masih bisa bertemu dengan saya…
PS.
- Postingan ini telah mengalami beberapa tahap dramatisasi….*halah…*
- Kepada temen sebelah kursi, selamat menempuh hidup baru ….
Posting Terkait:





Brarti masih bisa kawin yah..
[Reply]
Comment by Praditya — December 29, 2007 at 3:30 pm
mangkanya, cepetan kawin gih
[Reply]
Comment by poer — December 29, 2007 at 3:53 pm
alhamdulillah selamet.. tapi seru juga kayaknya
[Reply]
Comment by huda — December 29, 2007 at 4:14 pm
wah, daerah makassar memang bahaya … nanti doa yang kencang kalau balik ke maluku
[Reply]
Comment by auliahazza — December 29, 2007 at 5:57 pm
Si adis ini emang jagonya mengolah kata-kata. Penuturannya malah bikin ketawa sambil baca, padahal harusnya kan tegang.
Usul, balik nanti dari jogja ke Surabaya, trus naik rutenya Singa Udara atau B*****A yang langsung Ambon aja tanpa transit. Laporan cuaca : Ambon sudah mulai tenang, gak banyak angin.
[Reply]
Comment by hamida — December 29, 2007 at 9:07 pm
kirain mo ngewarisin blognya
[Reply]
Comment by caplang™ — December 29, 2007 at 10:32 pm
alhamdulillah.. ^^
minimal jadi punya cerita seru.. hhe..
[Reply]
Comment by azka,, — December 30, 2007 at 1:11 am
huh yang ada bikin ketawa bacanya..
[Reply]
Comment by RiE — December 30, 2007 at 11:27 am
alhamdulillah, that’s Allah’s will. mmm, lain kali coba jalan kaki dan berenang aja yah
[Reply]
Comment by yahya — December 30, 2007 at 2:23 pm
sudah saya baca sekali lagi (up to your request loh, dis).. nggak naik ‘mythical bird of indonesia’ saja to (sorry susah transliterasi-nya).
jadi ingat guyonan pas waktu itu,
suatu masa amerika berencana menghancurkan masjidil aqsa dengan pesawat penumpang (biasa, alasan konspirasi) memakai jasa teroris. semua maskapai dipakai, diisi bom… kecuali satu, ‘mythical bird of indonesia’. alasannya satu, kalo pakai maskapai itu, diprediksi pesawat bakal tidak menghancurkan masjidil aqsa, justru menghancurkan kroninya, tel aviv. alasannya?
departure delayed…
[Reply]
Comment by yahya — December 30, 2007 at 4:49 pm
memang cuaca nggak bisa diajak kompromi
[Reply]
Comment by goyangan — December 31, 2007 at 12:56 am
wakakakakaka, bobok aja kalau gitu…
[Reply]
Comment by dodot — January 1, 2008 at 12:37 pm
Yach udah jadi suratan takdirmu Pemuda Pengelana, bersyukurlah pada Alloh robbul alamiin…
[Reply]
Comment by acwin — January 2, 2008 at 10:57 am
dis.. makanya bertaubat sebelum tiba “masanya”
insyaAllah sebelum nyawa dicabut. masih bisa diterima kok…
[Reply]
Comment by widagdo — January 2, 2008 at 11:46 am
wah beruntung sekali ya Anda, karena mungkin itu juga yang terjadi pada pesawat Adam Air yang jatuh di awal tahun 2007
nico kurnianto’s last blog post..Hukuman Mati Bagi Para Koruptor: Layakkah?
[Reply]
Comment by nico kurnianto — January 7, 2008 at 2:23 pm
Waktu Bangka Belitung dua tahun yang lalu saya juga pernah mengalami hal yang hampir sama, pesawat hanya berputar-putar diudara hampir setengah jam, tapi nggak sampek harus mendarat ke bandara lain dulu. Salam kenal Bro.
-=«GoenRock®»=-’s last blog post..The Golden Compass, Kompas Emas seharga 250 Juta USD
[Reply]
Comment by -=«GoenRock®»=- — January 16, 2008 at 5:29 pm
kirain yang dipikirin “Ya Allah, saya belum kawin”
alhamdulillah ya mas
adite’s last blog post..teka teki einstein
[Reply]
Comment by adite — February 10, 2008 at 6:18 pm